Rabu, 31 Juli 2013

Buku Siswa Kurikulum 2013

1. Pendidikan Agama Islam
2. Pendidikan Agama Kristen
3. PPKn.
4. Bahasa Indonesia
5. Bahasa Inggris
6. Matematika
7. IPA
8. IPS
9. Penjasorkes
10. Senibudaya
11. Prakarya

Minggu, 19 Agustus 2012

SELAMAT IDUL FITRI 1433 HIJRIYAH

Pada 1 Syawal 1433 Hijriyah ini, saya mengucapkan "ja'alanallahu wa iyyakum minal aidina wal faa izina, kullu aamin wa antum bi khoirin, selamat Idul Fitri 1433 Hijriyah, mohon maaf atas salah dan khilaf". 

Khusus kepada seluruh anak didik saya yang pernah berkomunkasi baik secara langsung maupun tidak langsung, lisan maupun tertulis sehingga membuat ketersinggungan atau merasa tersakiti oleh ucapan atau tulisan saya. Dengan kejernihan dan ketulusan hati, "MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN ATAS KESALAHAN DAN KEALPAAN SAYA".

Teriring salam,  


Rabu, 01 Agustus 2012

Sebuah Renungan Bagi Para Remaja Kita..

Silakan klik! Insya Allah menjadi tambahan wawasan dalam perenungan dalam kehidupan Anda. Aamiin.

Minggu, 29 April 2012

GAGAP PUN SEBUAH GAYA HIDUP

Belum sempat sebagian masyarakat kita tersadar dari ketidakmampuan menghadapi kecanggihan teknologi yang seakan tidak menghiraukan ketertatihan kita, sebagian masyarakat yang merasa telah mampu mengendalikan dan menguasai kehebatan gempuran itu pun tergagap-gagap pula.
Sebagian kita selalu mengolok-olok orang yang kurang atau tidak mampu memanfaatkan kemajuan teknologi karena ketidakmampuan menguasainya dicapnya gagap teknologi. Sebuah misal, jika ada seseorang yang tengah menggunakan sarana teknologi lalu menemui kendala karena ketidakpahaman pemanfaatannya dianggapnya gagap teknologi. Cukup terhibur orang-orang yang mendengarkan anggapan atau julukan sinis itu. Mereka yang secara peribadi tidak mampu menfaatkan teknologi sudah merasa bergembira mendengarkan pelabelan seseorang terhadap orang lain yang tergagap dalam teknologi, apalagi yang merasa sudah cukup mumpuni dalam pemanfaatan teknologi itu.
Orang yang dicap gagap sebenarnya sudah cukup bersabar dan merasa maklum, jika tidak mau dikatakan malu menghadapi kenyataan itu. sementara itu, mereka yang merasa mampu menggunakan teknologi sangat merasa tersanjung jika dikatannya sebagai orang yang hebat karena kemampuannya menggunakan teknologi canggih saat ini.
Satu sisi, tidak sadarkah kita? Kehebatan kita menguasai teknologi ternyata termasuk juga orang gagap teknologi. Betapa tidak? Coba tengok keseharian orang-orang atau teman-teman yang ada di tengah-tengah kita yang suka berkomunikasi dengan menggunakan handphone sambil berkendara dan tidak menggunakan alat bantu seperti handset. Tanpa mereka sadari bahwa ia dan orang-orang di sekitarnya diintai oleh bahaya yang siap menerkam keteledorannya karena penggunaan teknologi itu. Contoh lain, seorang yang sedang memimpin atau mengikuti rapat harus terputus berkomunikasi dengan forum yang sedang dihadapinya karena harus menerima telapon, tambah lagi dengan suara pembicaraan yang lantang ataupun dengan suara rendah sambil menangkupkan telapak tangan di depan mulutnya. Mereka tidak menyadari kalau dirinya terkendalikan oleh teknologi. Apakah contoh polah seperti ini tidak bisa dikatakan gagap teknologi?
Dikatakan gagap karena tidak mampu mengendalikan atau memanfaatkan sebuah produk teknologi. Orang yang tidak mampu menguasai teknologi dikatakan gagap teknologi. Lalu, apa bedanya dengan para ‘penguasa’ (orang yang menguasai) teknologi, tetapi mereka tidak mampu menguasai atau tidak mampu mengendalikan pemanfaatan teknologi itu? Nyaris tidak ada perbedaan sedikit pun.
Pemanfaatan teknologi sewajarnya, tidak dengan berlebihan dan menyadari kondisi yang dihadapi merupakan upaya menempatkan sarana teknologi di bawah kendali kita. Dengan terlalu banyak masyarakat kita yang tergagap-gagap dalam teknologi, bangsa kita makin tercerabut dari budaya baik kita yang mengutamakan bersilaturahim. Mereka lebih asyik dan lebih senang berkomunikasi dengan telepon apalagi ber-SMS-SMS-an sehingga orang-orang yang ada di sekilingnya tak terhiraukan dan tidak saling mengenal meskipun sering berjalan bersama, makan bersama, bahkan tidur bersama. Semua itu sepertinya sudah hal yang biasa dan wajar karena tidak tahu lagi etika berperibadi dan bermasyarakat.
Jika kita menginginkan menjadi bangsa yang beretika dan bermartabat, jadikanlah diri kita sebagi bangsa yang memiliki karakter dan keinginan yang kuat untuk menjadi peribadi dan bangsa yang memiliki keindonesiaan. Gaya hidup bukanlah harga mati karena bisa disubsitusikan ke hal lain yang bermartabat. Bukan lagi menjadi fenomena peribadi yang tergagap-gagap.

Selasa, 17 Januari 2012

MENYONGSONG MUKER MGMP BAHASA INDONESIA SMP PROVINSI DKI JAKARTA 2012

Ada momentum istimewa di tahun 2012 bagi komunitas guru bahasa Indonesia Provinsi DKI Jakarta. Apakah itu? Di tahun kabisat ini, mereka akan melangsunkan siklus kehidupan berorganisasi empat tahunan. Uniknya, hajat itu akan dilaksanakan pada tanggal 29 Februari yang tidak setiap tahun kita dapatkan tanggal yang sama pada bulan tersebut. Kalaupun bertemu lagi, empat tahun berikutnya. 

Berkenaan dengan pemilihan ketua khususnya dan pengurus umumnya, akan lebih bijak jika kita memilih orang-orang yang mempunyai komitmen besar dalam MGMP Bahasa Indonesia atau kalau boleh diuraikan ada beberapa kriteria umum: 
     1. Memiliki kemampuan manajerial ke-MGMP-an; 
     2. Memiliki integritas tinggi terhadap MGMP; dan 
     3. Sanggup menjalankan roda organisasi dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi. 
     
Kalau penulis boleh mengutip pendapat orang bijak yang hidup di tatar Jawa, seorang pemimpin itu harus pinter, bener, lan kober. Sementara itu, orang bijak yang mendiami tatar tanah Sunda menaksir seorang calon pemimpin itu harus memiliki eksistensi cageur, bageur, bener, jeung pinter. Pinter (pintar) saja tidak cukup jika roda organisasi tidak dijalankan secara bener (benar), sesuai dengan koridor keorganisasian. Roda organisasi akan terbengkalai jika fisik pemimpin tidak dalam kondisi prima atau selalu sakit-sakitan maka perlu calon pemimpin harus memiliki fisik yang sehat (cageur) dan psikis yang baik (bageur). Jika hal-hal tersebut sudah terpenuhi, hanya merupakan sebuah wacana dan tumpukan program tanpa makna karena ia tidak mampu melaksakannya. Oleh karena itu, ada satu lagi kriteria calon pemimpin MGMP Bahasa Indonesia SMP Provinsi DKI Jakarta mendatang yaitu  kober (ada waktu untuk berbuat atau melakukan). 

Dengan semangat menuju perubahan dan perbaikan, penulis berharap musyawarah kerja yang akan dilaksanakan di Bogor nanti membawa manfaat terutama meningkatnya mutu kompetensi berbahasa Indonesia pada anak didik yang mengais sumber pengetahuannya di Provinsi DKI Jakarta.
atomi, suatu pagi di jalan nangka

Sabtu, 31 Desember 2011

RENUNGAN AKHIR TAHUN


Kegagalan Bukan Akhir Segalanya

"Kegagalan pada haikatnya bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, 
tetapi ia merupakan jembatan untuk melewati jalur tercepat 
menuju kesuksesan." 

   Sengaja saya awali renungan akhir tahun ini dengan kalimat bijak yang intinya kurang lebih sama. Untaian kalimat itu sering kita dengar dan biasanya disampaikan seseorang kepada orang lain yang tengah mengalami sebuah kegagalan. Mungkin terasa mudah untuk menyampaikan pernyataan itu, tetapi bagi seseorang yang tengah mengalaminya terasa berat untuk menerima kenyataan. Apalagi, selama persiapan, pelaksanaan, sampai dengan penantian dengan disertai 'ikhtiar positif' telah sungguh-sungguh dilakukan.
   Jika segala upaya sudah dilakukan, wajar jika ada rasa kecewa. Akan tetapi, apabila 'ikhtiar positif' telah dilakukan secara ikhlas, insya Allah rasa kecewa itu akan menjadi sebuah kekuatan untuk melihat sisi positif di balik kegagalan itu. Tidak pernah merasa lelah untuk tetap berbuat lebih baik. Bukankah kekasih Allah SWT, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa orang yang terbaik adalah orang yang bermanfat bagi orang lain.
   Setiap kita pasti pernah gagal dan hal itu sangat wajar dalam kehidupan. Yang berbeda adalah bagaimana sikap setiap kita dalam mempresepsi kegagalan yang sedang dihadapinya. Ada orang yang bisa mengambil hikmah dan belajar dari kegagalan yang diterimanya untuk kemudian mencarai cara, mencoba lagi, dan beruhasa keras agar bisa berhasil. Akan tetapi, lebih banyak dari kita yang merasa alergi dengan kegagalan itu. Mereka lebih terbiasa berharap menerima kesuksesan di awal usahanya daripada bersiap menghadapi kegagalan. Sahabat, kegagalan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam mendidik diri kita guna mencapai kesuksesan dan mewujudkan cita-cita kita. Tanpa kegagalan maka kesuksesan kita akan terasa hambar. Tanpa kegagalan maka sedikit pelajaran hidup yang bisa kita ambil.
   Saya teringat kata-kata yang pernah disampaikan seorang pebisnis raja jalanan yang sampai saat ini menjejali sisi-sisi jalan di seluruh pelosok dunia, Soichiro Honda, "orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen, tetapi mereka tidak melihat 99% kegagalan saya." Meskipun satu persen keberhasilannya, pada kenyataannya mampu menguasai dunia. Apalagi jika 99%? Tentunya banyak pelajaran hidup dari kegagalan yang pernah dilalui oleh lelaki kelahiran distrik Shizuko, Jepang tanggal 17 November 1907 ini.
  Sahabat, janganlah terpaku dengan kegagalan yang kita hadapi, janganlah kita berpikiran bahwa orang lain akan mengingat dengan kegagalan kita. Buang jauh-jauh perasaan negatif itu! Cepat atau lambat, jika perasaan-perasaan negatif itu tetap bersemayam di benak kita, pada akhirnya kita akan menjadi orang yang lemah karena perasaan kita sendiri. 
   Bangkit, bangkit, bangkit, dan selanjutnya melangkah untuk mengabil posisi terbaik.  
atomi, dalam kesendirian di ciracas

Sabtu, 24 Desember 2011

KEGAMANGAN SEORANG GURU HARUS MENGAJAR 24 JAM, TERJAWAB SUDAH!


   Dengan disahkannya Permendiknas Nomor 30 Tahun 2011 terjawab sudah berkaitan dengan pemenuhan mengajar 24 jam sebagaimana yang tertuang permendiknas sebelumnya (Permendiknas Nomor 39 Tahun 2009) khususnya Pasal 5 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas. 
    Pada Permendiknas Nomor 39 Tahun 2009 Pasal 5 ditungkan bahwa seorang guru yang belum memenuhi 24 jam masih diperkenankan mengajar atau mengampu bidang lain untuk memenuhi kekurangannya itu dengan ketentuan sebagai berikut:
a. mengajar mata pelajaran yang paling sesuai dengan rumpun mata   
    pelajaran yang diampunya dan/atau mengajar mata pelajaran lain yang 
    tidak ada guru mata pelajarannya pada satuan administrasi pangkal atau 
    satuan pendidikan lain;
b. menjadi tutor program Paket A, Paket B, Paket C, Paket C Kejuruan atau
    program pendidikan keaksaraan;
c. menjadi guru bina atau guru pamong pada sekolah terbuka;
d. menjadi guru inti/instruktur/tutor pada kegiatan kelompok kerja guru/
    musyawarah guru mata pelajaran (KKG/MGMP);
e. membina kegiatan ekstrakurikuler dalam bentuk kegiatan praja muda
    karana (Pramuka), olimpiade/lomba kompetensi siswa, olahraga, kesenian,
    karya ilmiah remaja (KIR),  kerohanian, pasukan pengibar bendera
    (Paskibra), pecinta alam (PA), palang merah remaja  (PMR), jurnalistik/
    fotografi, usaha kesehatan sekolah (UKS), dan sebagainya;  
f.  membina pengembangan diri peserta didik dalam bentuk kegiatan
    pelayanan sesuai dengan bakat, minat, kemempuan, sikap, dan perilaku
    siswa dalam belajar, serta kehidupan pribadi, sosial, dan pengembangan
    karir diri;
g. melakukan pembelajaran bertim (team teaching) dan/atau;
h. melakukan pembelajaran perbaikan (remedial teaching).
   Ketentuan tersebut berlaku hanya 2 (dua) tahun sejak Permendiknas Nomor 39 Tahun 2009 disahkan (30 Juli 2009). Dalam Permendiknas Nomor 30 Tahun 2011 sebagai permendiknas perubahan dengan tegas dikatakan bahwa sampai dengan tanggal 31 Desember 2011 permasalahan itu harus tuntas. Artinya, mulai Januari 2012 semua guru harus mengajar sesuai dengan spesifikasi mata pelajaran yang ia ampu atau sesuai dengan jenis mata pelajaran yang tercantum pada sertifikat pendidik dengan jumlah minimal 24 jam. Jumlah tersebut tidak diperkenankan lagi 'menutupinya' dengan mata pelajaran atau bidang tugas lain sebagai tambahan seperti yang dilakukan sebelumnya (poin a - h).
   Dua tahun sejak Permendiknas Nomor 39 Tahun 2009 ditetapkan, permasalahan guru, khususnya mereka yang mengajar kurang dari 24 jam belum juga tuntas. Akan tetapi, pemerintah pusat melalui Menteri Pendidikan dan Kebuyaan, dua tahun merupakan waktu yang cukup bagi pemerintah daerah untuk berkonsolidasi berkaitan dengan masalah tersebut sehingga tidak perlu lagi untuk mengulurnya. Oleh karena itu, dengan terbitnya permendiknas perubahan tersebut merupakan sebuah ultimatum bagi pihak dinas pendidikan provinsi, dinas pendidikan kabupaten/kota, dan kantor wilayah kementerian agama, dan kantor kementerian agama kabupaten/kota agar segera menuntaskannya.
   Penulis berharap kepada teman-teman guru tidaklah perlu risau dan cemas, tetaplah mengajar sebagaimana biasa, tetap semangat, dan terus berjuang demi kemuliaan penerus kita. Biarlah permasalahan itu bergulir seiring dinamika bangsa ini yang sedang menuju pembenahan diri dan insya Allah semua pihak penentu kebijakan sedang memikirkan dan mencari solusi terbaiknya. Apapun yang akan kita dan teman-teman hadapi dan alami semata-mata kuasa Allah SWT. Oleh karena itu, berpikirlah positif karena berpikir positif merupakan pintu kemenangan kita yang orang lain tidak pernah mengetahui, kecuali diri sendiri.
teriring salam
atomi, suatu pagi di ciracas
Baca selengkapnya